PROFIL SHS: “JEJAK LANGKAH DAN KARYA SINYO HARRY SARUNDAJANG DALAM REKAMAN WAKTU”

DEDIKASI DAN JASA-JASA BESAR “MUTIARA DARI TIMUR”

DRS. SINYO HARRY SARUNDAJANG (SHS)

Pemimpin Berkharisma

Sinyo Harry Sarundajang, ketika orang mendengar nama itu, sering muncul komentar. “Dia pemimpin berkharisma”. Jenderal Rudini ketika menjabat Mendagri tahun 1990, memberi komentar singkat soal Sinyo Sarundajang, “Sosok potensial menjadi Pemimpin Sulut masa depan.”

Tidak banyak orang tahu, Sarundajang adalah figur yang secara elegan sanggup menembus kekakuan pemerintahan Orde Baru dengan menawarkan konsep pemekaran wilayah otonom. Sarundajang adalah orang pertama di republik yang berani dan berhasil memekarkan wilayah dengan melahirkan Kotamadya Bitung pada tahun 1990. Maka Bitung menjadi Kotamadya pertama yang lahir di masa Orde Baru. Konsep pemekaran wilayah pemerintahan yang Sarundajang contohkan dari Bitung itu kemudian menjadi konsep dan model efisiensi pemerintahan daerah secara nasional hingga sekarang. [.....]

Sudah banyak orang tahu, Sarundajang adalah tokoh yang memiliki perjalan karier politik dan pemerintahan yang sungguh mengesankan. “Kalau di militer dia itu sudah jenderal bintang empat. Pangkat PNS-nya sudah sampai di puncak, eselon I Golongan IV E dengan jabatan karier tertinggi Irjen Depdagri,” kata Drs Abdullah Mokoginta, pamong senior dan mantan Wakil Gubernur Sulut.

Jabatan dan karier Sarundajang diraih bukan karena koneksitas eksklusif, tetapi karena kualitas, kapasitas, dan kompetensi pribadi Sarundajang semata. “Sarundajang itu pemimpin yang lahir dan dibesarkan semata karena kualitas pribadinya dan kapasitas intelektualnya. Dia tidak bergantung pada sebuah kekuatan temporer,” kata Wartawan Senior asal Sulut, August Parengkuan.

Di zaman Orde Baru dia diakui sebagai salah satu pemimpin daerah (walikota) yang brilian dan berkarakter kuat. Koleganya sesama kepala daerah, Letjen (Purn) Surjadi Sudirdja, Mantan Mendagri dan Gubernur DKI menyebut Sarundajang sebagai “Bintang dari Timur”. “Saya kenal betul, dia itu memiliki banyak kelebihan. Kami beberapa kali jadi satu tim di forum konferensi walikota se-dunia,” ujar Sudirdja.

Sarundajang tidak hanya dikenal orang-orang terkenal, tetapi juga dia dekat dengan orang-orang pinggiran. “Saya pernah menyaksikan Sarundajang melayani makan seorang kakek dengan memberi piring nasi dan minuman botol dalam satu acara di Gorontalo ketika beliau masih menjabat Walikota Bitung,” kata Drs. Achmad Saramat, tokoh masyarakat dan Penasihat Partai Golkar Sulut. Ada banyak bukti Sarundajang dekat dengan rakyat, baik ketika masih bertugas di Sulut maupun di Maluku dan Maluku Utara.

Duta Perdamaian Ditengah Konflik

Sinyo Harry Sarundajang dalam lima tahun terakhir ini dijuluki sebagai “Duta Perdamaian” dan “Khalifah” di dua kawasan konflik, Provinsi Maluku Utara dan Maluku tahun 2002. Presiden Megawati Soekarnoputri mengutus Sarundajang ke dua daerah itu menjadi Penjabat Gubernur untuk dua tugas pokok meredahkan konflik dan memperisiapkan pemilihan gubernur definitif.

Hasilnya, di luar dugaan. Sarundajang sukses meredakan konflik horisontal yang sudah berlangsung sekitar empat tahun di Maluku dan Maluku Utara yang memakan korban ribuan rakyat. Sarundajang mampu memimpin penyelenggaraan pemilihan gubernur di dua provinsi yang sensitif itu.

Perjalanan tugasnya di Maluku Utara dan Maluku tidaklah gampang. Pada awalnya, Sarundajang ditolak habis-habisan oleh berbagai kalangan yang terlibat konflik. Beberapa jam di hari pertama setelah tiba di Kota Ternate sebuah bom meledak di dekat tempat penginapannya di Kota Ternate. Sejumlah perutusan menemui Sarundajang dan menyatakan penolakan. Sarundajang tidak gentar, dengan keyakinan dia maju melangkah membawa amanat perdamaian yang diamanatkan negara. “Ini tugas negara saya tak akan mundur dan harus sukses. Mati sekalipun saya siap,” ujar Sarundajang menjawab penolakan sejumlah tokoh masyarakat Maluku Utara.

Hanya dalam hitungan minggu, Sarundajang terjun melakukan perjalanan membuka simpul-simpul konflik di Maluku Utara. Sarundajang mendatangi tokoh-tokoh masyarakat garis keras Maluku Utara di rumah masing-masing. Dia bahkan berani masuk hingga ke dapur rumah dan duduk makan bersama dengan beberapa tokoh garis keras. “Mereka terperangah, dia ditolak tetapi mau datang bersilaturahmi hingga ke dapur rumah,” kata Fais, wartawan di Kota Ternate.

Hasil akhirnya, selain dia bisa menyelesaikan tugas-tugas pokoknya meredahkan konflik dan menghasilkan gubernur terpilih, Sarundajang dinobatkan sebagai “Khalifah” oleh tokoh-tokoh Muslim Maluku Utara. Sedangkan tokoh-tokoh Kristen menjuluki Sarundajang sebagai “Duta Perdamaian”.

Di Ambon Maluku, Sarundajang juga harus melewati ujian adat untuk bisa memimpin Maluku sebagai gubernur. Setiba di Bandara Patimura Ambon, Sarundajang berlutut dan mencium bumi Ambon Manise. Tetapi kemudian dia diminta langsung mengikuti upacara uji kemampuan sebagai pemimpin. Di sebuah desa Sarundajang harus mencambuk dengan tiga ujung lidi seorang lelaki kebal yang telanjang dada. Apabila bekas  cambukan pada tubuh lelaki kebal itu mengeluarkan darah, maka Sarundajang memenuhi syarat adat memimpin Maluku. Jika tidak berdarah, Sarundajang akan ditolak sebagai Gubernur Maluku.

“Waktu itu saya berdoa, agar dapat kekuatan. Puji Tuhan, cambukan yang saya ayunkan tiga kali itu ternyata mengeluarkan darah di tubuh lelaki kebal itu,” kata Sarundajang mengenang suasana tegang itu. Dijelaskan, sesungguhnya dia bukan orang kuat. “Saya bukan Goliat tetapi saya datang dengan hati nurani untuk menyelesaikan konflik,” tambahnya.

Akhirnya, Sarundajang secara perlahan diterima oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik horisontal di Maluku. Dia membagi waktu mengunjungi semua tokoh garis keras yang terlibat konflik dengan pendekatan ”hati nurani”. Dalam beberapa pertemuan dengan masyarakat yang terlibat konflik, Sarundajang beberapa kali dikecam dan ditentang secara tajam. Kecaman yang tajam dan cendrung kasar itu dimaksudkan untuk memancing emosi Sarundajang. Tetapi Sarundajang tetap tampil tenang dan konsisten dengan pendekatan “hati nuraninya”.

Bahkan tokoh terkemuka umat Muslim Maluku, yang dijuluki “Panglima Laskar Jihad Maluku”, Mohammad Atamimi yang semula selalu bermaksud membangkitkan emosi Sarundajang, pada setiap kesempatan berbalik menerima dan mendukung kehadiran Sarundajang di Maluku.

“Sarundajang bisa menjadi sahabat Atamimi, itu luar biasa. Sebelumnya Gubernur Latuconsina dan tokoh-tokoh nasional lainnya sulit memasuki wilayah Kebun Cengkeh Markas Laskar Jihad yang dipimpin Atamimi. Tetapi Sarundajang bisa melakukan itu dengan pendekatan Hati Nurani,” kata Kutni tokoh muda Muslim yang juga fungsionaris PPP Maluku.

“Saya dulu sangat menentang Sarundajang, tetapi sekarang saya orang yang sangat mendukung Sarundajang di manapun dia berada. Dia itu “Malaikat Kecil” yang hadir di Maluku,” kata Atamimi di depan ribuan umat Muslim di Manado. Pernyataan Panglima Laskar Jihad ini disampaikan sebagai bentuk dukungan moral pada Sarundajang dalam pencalonan Gubernur Sulut 2005–2010.

“Sangat disayangkan, kalau tokoh seperti Sarundajang tidak dipilih jadi pemimpin Sulut. Tetapi saya punya keyakinan, tanpa kampanyepun Sarundajang pasti menjadi gubernur. Di daerah konflik saja dia sukses memimpin, apalagi di daerah damai seperti Sulut,” kata Atamimi.

“Saya Hanya Alat Tuhan”

Sinyo Harry Sarundajang, apakah dia berubah setelah lima tahun (2000 – 2005) berkiprah di jaring nasional dengan sederet prestasi ? “Rasanya tidak banyak yang berubah dari Bung Sinyo,” kata sahabat lamanya Drs. Boy Lalamentik. Kepribadiannya tetap penuh persahabatan, karakternya yang berwibawa, dan berkharisma, penampilannya yang elegan dan penuh disiplin. “Ciri-ciri kepemimpinan elegan sudah lama dimiliki Sarundajang. Kalau ada yang berubah adalah pengalaman dan kematangannya,” ujar Lalamentik yang sudah bersahabat dengan Sarundajang sejak masa Sekolah Dasar di Kotamobagu, Bolaang Mongondow, tahun 1950-an.

Kiprahnya lima tahun terakhir (2000 – 2005) mulai dari Staf Ahli Mendagri Bidang Strategis, Inspektur Jenderal Depdagri, Pejabat Gubernur Maluku Utara, Pejabat Gubernur Maluku, Sarundajang telah meraih sederet prestasi dan penghargaan.

Beberapa penghargaan internasional diraihnya karena prestasinya memimpin daerah konflik. Diantaranya, Outstanding Achieveement In Field of Governance, dari 21st Century Award (2002), Outstanding Government Official in Indonesia dari Who’s Who In The World Twentieth Edition (2003), dan The Governor’s Award semasa menjabat Gubernur Maluku dan Maluku Utara dari American Biographical Institute (ABI) tahun 2004. Tiga penghargaan yang diberikan lembaga-lembaga independen internasional (NGO) itu ikut membuktikan Sarundajang telah mendapat pengakuan internasional sebagai pemimpin pemerintahan yang berprestasi luar biasa.

Tidak hanya itu dalam kurun lima tahun terakhir Presiden RI menganugerahkan dua penghargaan di dada Sarundajang. Tahun 2002 dia memperoleh Satya Lencana Karya Satya 30 tahun dari Presiden RI. Kemudian Bintang Jasa Utama dari Presiden RI.

Orang Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Maluku memberi apresiasi pada karya Sarundajang. Berbagai gelar dan pujian diberikan kepada putera Sulawesi Utara ini. “Duta Perdamaian Maluku”, “Khalifaf dari Minahasa”, “Malaikat Kecil”.

Di depan rakyat Sulawesi Utara dan komunitas rakyat Maluku dan Maluku Utara yang memuji-mujinya, Sarundajang dengan rendah hati bertutur. “Saya ini hanya alat Tuhan. Jangan puji saya, Pujilah Tuhan, Pujilah Tuhan,” seru Sarundajang menanggapi pujian rakyat kepadanya.

Sambil menghela napas, Sarundajang berusaha jujur di depan rakyat. “Sungguh, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam tugas-tugas berat itu jika tanpa campur tangan Tuhan. Saya merasakan bagaimana Tuhan menjadikan saya sebagai alatNya,” tururnya dalam ekspresi datar saat dijuluki “Malaikat Kecil” oleh Muhammad Atamimi.

Kerendahan hati Sarundajang atas semua pujian itu dinilai Pdt Prof Dr W.A. Roeroe sebagai kesadaran spritual yang mendasar sekaligus pembuktian dirinya sebagai pemimpin utusan Tuhan. “Saya pernah bilang dulu, Sarundajang itu melakukan tugas kenabian di Maluku Utara dan Maluku. Dia itu seperti rasul dan nabi,” kata mantan Ketua Sinode GMIM itu.

Pesona Sarundajang

Sinyo Harry Sarundajang pun kembali ke negeri leluhurnya setelah lima tahun berkarya bagi negeri tercinta Indonesia. Dia langsung didaulat dan diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk bisa memimpin Sulawesi Utara menjadi Gubernur Sulawesi Utara melalui momentum Pilkada 2005.

Dia pun memberi diri. Kesemarakan rakyat menyambut pencalonannya sebagai kandidat Gubernur Sulut periode 2005 – 2010 sudah terasa ketika Sarundajang bersosialisasi tampil di depan rakyat Sulut. “Hidup Sarundajang ….. Hidup Sarundajang …..”, “Sarundajang  Gubernur Sulut Bulan Juni 2005 …..” itulah yel-yel menyambut penampilan Sarundajang di berbagai acara kerakyatan.

Di pasar, di rumah kopi, di mikorolet, di pangkalan ojek, di kantor, di kampung, dan di kota; nama Sarundajang diperbincangkan dengan kehangatan demokrasi menyongsong Pilkada. Demam Sarundajang seperti menghias perbincangan rakyat di mana-mana.

Apa pesona Sarundajang sehingga nama itu menjadi  fenomena Pilkada di Sulut ? “Prestasi, nama besar dan pesona pribadinya. Dia ganteng dan cerdas,” tutur Pingkan Roring mahasiswa FISIP Unsrat. “Senyumnya, wajahnya … pesonanya …. aduh …,” sambung mahasiswa lainnya.

Seorang mahasiswa lain bahkan sempat ngotot mencari foto Sarundajang di Sekretariat Tim Sukses Sarundajang–Sualang. “Kita cuma mo minta foto Sarundajang. Mo taru di dompet,” katanya kepada seorang staf sekretariat.

Di rumah kopi kawasan Jalan Roda (Jarod), dalam diskusi-diskusi kecil nama Sarundajang juga sangat mendominasi. “Dia itu so teruji, Bitung dia beking bagus. Ambon dan Ternate dia beking aman. Tantu dia sanggup memimpin Sulut,” tutur seorang lelaki sembari meneguk kopi.

Di Desa Wanga Kecamatan Motoling, Minahasa Selatan, ratusan warga yang mendapat informasi bahwa rombongan Sarundajang akan melintas di desa itu, bikin aksi mengejutkan. Mereka menghadang rombongan Sarundajang di depan sebuah kantin dan menyerukan agar Sarundajang turun dari mobil. “Kami minta dengan hormat, mana Pak Sarundajang .. mana Pak Sarundajang mohon turun dari mobil. Torang cuma mo lia kong mo kase tangan,” seru seorang warga dari balik mikrofon kantin gereja.

Sambil senyum Sarundajang turun dari mobil Land Cruisser yang membawanya mengunjungi kawasan Minahasa Selatan. Dia melambaikan tangan dan menebar senyum. Dalam hitungan detik dia langsung dikerubuti ratusan warga desa yang berhamburan di jalan raya. Mereka menyalami Sarundajang dengan rasa bangga bercampur haru. „Kase slamat jo skarang. Kalu so jadi gubernur so susah mo kase tangan,“ celoteh seorang warga.

„Nyanda susah kase tangan, Kalau Tuhan berkenan melalui rakyat. Hati saya akan hari-hari bersama rakyat,” sahut Sarundajang sambil menyalami ratusan rakyat Desa Wanga yang mencegatnya. ”Hidup Sarundajang ….. Hidup Sarundajang…. Hidup Gubernur Baru,“ teriak seorang pemuda.

Mengomentari antusias rakyat menyambutnya, Sarundajang tetap merendah. „Kita tidak boleh takabur. Terima kasih tentunya atas apresiasi rakyat. Saya hanya manusia biasa. Alamat pujian harus kepada Tuhan Pencipta, karena Dialah Yang Abadi,“ tuturnya.

Menduniakan Sulut Melalui WOC 2009: Panggilan Jiwa Untuk Kelestarian Bumi dan Keberlangsungan Hidup Manusia

Perjalanan karir seorang Sinyo Harry Sarundajang senantiasa dihiasi dengan berbagai ide dan pemikiran-pemikiran besar dan strategis. Disamping apa yang telah digambarkan di atas, satu ide yang merupakan terobosan strategis SHS bagi kepentingan daerah, bangsa dan negara bahkan dunia adalah ide pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) di Manado Sulawesi Utara.

Rangkaian ceritera sukses WOC 2009 di Manado, bermula pada sebuah pertemuan antara Presiden SBY dengan para gubernur  seluruh Indonesia pada akhir Oktober 2005. Pada momen itu Presiden memberikan berbagai awarenes sehubungan dengan kondisi ekonomi global yang mengalami gejolak serius. Presiden mengajak para gubernur untuk mencari langkah-langkah kreatif menggenjot potensi daerah agar mampu menahan gempuran kenaikan harga BBM. Pesan Presiden inilah yang bersemayam dan berkecamuk dalam benak SHS.

Dari sini kemudian SHS mulai mengkonstruksi aneka ide, yang intinya bagaimana mengembangkan potensi Sulawesi Utara yang mampu memberikan multyplier-effect dalam berbagai sektor pembangunan. Segala potensi dielaborasi dalam ramuan ide, dengan menghubungkan antara potensi geostrategi, sumberdaya alam dan dukungan modal. SHS tertantang untuk mewujudkan apa yang disebut result oriented government.

SHS kemudian mencoba mengayuh pemikirannya menuju gagasan mengenai masa depan laut. Terbetik pemikiran tentang peran dan fungsi laut bagi lingkungan, yang kini menjadi isu sentral publik global. Tapi bagaiamana korelasinya dnegan laut ? Apakah laut memiliki peran dalam mata rantai ekosistem yang telah luluh lantak oleh ulah manusia ?

Percikan-percikan tanya ini mengiring SHS pada serangkaian analisis dasar tentang posisi strategis Sulawesi Utara dalam konfigurasi dunia, yang jelas berhadapan langsung dengan  Samudera Pasifik. Ada impian yang membara bahwa Sulawesi Utara harus dikenal dunia, dan untuk mewujudkannya pasti ada jalan. SHS kemudian terinspirasi oleh upaya sejumlah pemimpin dunia dalam memperkenalkan wilayahnya melalui perhelatan bergengsi, menghadirkan dunia dinegaranya melalui iven-iven prestisius.

SHS sadar akan keterbatasan yang dimiliki, tapi bagi dia yang terpenting adalah substansi dan visi dulu, sesudah itu baru langkah-langkah pembenahan. Setelah melalui proses urun rembuk dengan berbagai stakeholders, para pakar, tim ahli dan jajaran birokrasi Pemprov Sulut, SHS menemukan banyak masukan dan saran mengenai urgensi pertemuan di bidang kelautan dunia.

Setelah melalui proses pengkajian dan analisa yang matang dan komprehensif dari tim yang cerdas dan solid,  SHS kemudian memberanikan diri untuk mengusulkan ke pemerintah pusat sebuah pertemuan  global bernama World Ocean Summit yang kemudian berubah menjadi World Ocean Conference (WOC) di Manado Sulawesi Utara, yang akan membahas masalah kelautan secara komprehensif dan komitmen penyelamatan laut demi masa depan umat manusia.

SHS Menembus Blok-Blok Diplomasi

Memang jika kita mengkilas balik perjalanan WOC ini, mulai dari kemuculan ide tidaklah mudah. Optimisme dan pesimisme, maupun dukungan dan kritikan semuanya mangalir mengasah impian untuk menjadi kenyataan. Tekad dan impian akan kebangkitan baru bagi kemajuan Sulawesi Utara dan Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar, itulah yang terus bergelora, membakar semangat  untuk tetap maju berjuang mewujudkan ide pelaksanaan World Ocean Conference di Manado Sulawesi Utara, dengan menembus blok-blok diplomasi lokal, nasional dan internasional, mulai dari meyakinkan DPRD dan berbagai elemen masyarakat Provinsi Sulawesi Utara, Presiden RI dan jajaran Kabinet Indonesia Bersatu, DPR dan DPD RI, sampai menembus pada diplomasi internasional di badan-badan dunia yang berujung di PBB, yang pada akhirnya memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan WOC dan CTI Summit di Manado Sulawesi Utara.

Signal positif dari Presiden RI disampaikan ketika kunjungannya ke Sulawesi Utara pada Januari 2006, dimana pada saat tiba di bandara Sam Ratulangi, SHS mempresentasikan urgensi WOC bagi kepentingan global. Presiden kemudian menyambut positif dan antusias, dan langsung memberikan dukungan penub serta mengharapkan iven ini harus sukses.

Signal positif dari Presiden ini langsung ditindaklanjuti dengan mengadakan koordinasi dengan kementerian terkait, seperti Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kelautan   dan Perikanan, dan Menteri Luar Negeri. Para menteri ini juga langsung memberikan dukungan, bahkan Menteri Luar Negeri menyatakan isu laut belum pernah dibahas dalam agenda-agenda global, yang terakhir pada tahun 1982 oleh UNCLOS yang melahirkan kesepakatan tentang pengakuan status kewilayahan Indonesia sebagai Negara Kepulauan (Archipelagic State) yang mengukuhkan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan Wawasan Nusantara (GBHN 1973).

Dukungan Pemerintah Pusat terhadap pelaksanaan WOC di Manado dituangkan dalam Keppres Nomor 23 tahun 2007 tentang Panitia Nasional Penyelenggara Konferensi Kelautan Dunia 2009, yang kemudian direvisi dengan Keppres No.17 Tahun 2008. Lahirnya Keppres ini menandakan legitimasi yang paripurna dari pemerintah, dan ini tidak terlepas dari perjuangan dan kerja keras SHS bersama timnya untuk meyakinkan Presiden dan para Menteri  kabinet Indonesia Bersatu.

Disamping itu, Menteri Kelautan dan Perikanan RI mengeluarkan Kepmen No. 12 Tahun 2008 tentang Pembentukan Panitia Pelaksana World Ocean Conference 2009. Di tingkat lokal Sulawesi Utara, dukungan politis datang juga dari DPRD Sulawesi Utara melalui Perda Provinsi Sulawesi Utara No.2 Tahun 2007, kemudian Keputusan Gubernur Sulut No.157 Tahun 2008 tentang Penetapan Kembali Panitia Daerah World Ocean Conference 2009.

Berbekal kepercayaan dan  dukungan penuh dari Presiden, jajaran menteri, DPR, DPD, dan DPRD, maka untuk membumikan ide WOC ini benar-benar menjadi isu global,  SHS pun terus berjuang menembus blok-blok diplomasi internasional. Dalam berbagai kesempatan tugas kunjungan  ke luar negeri, diplomasipun terus digencarkan agar WOC mendapat dukungan dan pengakuan secara global.

Pada Konferensi 24th Season of UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment  Forum di Nairobi Kenya, 5-9 Pebruari 2007, bersama Menteri Lingkungan Hidup RI Ir. Racmat Witoelar, SHS secara terbuka menyatakan perlu diadakan konferensi kelautan dunia. Diplomasi demi diplomasi terus dilakukan, antara lain dengan Mr. Achim Steiner, Director Excetutive  United Nations Environment Program (UNEP), dan Dr. Anna Kajumulo Tibaiuka, Direktur Excecutive UN-HABITAT, maupun dengan petinggi-petinggi UNESCO dan lain sebagainya.

Akhirnya dukungan positifpun datang dari berbagai lembaga internasional  dibawah naungan PBB dan lembaga-lembaga internasional dibidang  konservasi alam dan keanekaragaman sumberdaya alam hayati, seperti UNEP, UNESCO, NOAA, UNDP, Global Forum on Oceans, Coasts, and Islands, UNICPOLOS, UN-HABITAT, WMO, WWF, serta sejumlah lembaga terkait lainnya.

Manado Untuk Dunia: “Manado Ocean Declaration”

WOC dan CTI Summit 2009 telah mampu menuai sukses besar bukan saja bagi daerah Sulawesi Utara, tetapi juga telah dan semakin mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia internasional.  Kita semua telah menyaksikan,  melalui WOC dan CTI Summit, selama kurang lebih lima hari penuh, sebagian besar mata masyarakat dunia…, telah melihat dan menyaksikan secara langsung  maupun melalui media masa mengenai urgenitas dan keberhasilan penyelenggaraan WOC dan CTI Summit, dan banyak mulutpun telah memberikan apresiasi dan  pengakuan, kekaguman dan kebanggaan akan hasil dari iven, sekaligus akan pengakuan akan Manado, Sulawesi Utara dan Indonesia Negara Kepulauan yang berada di pusaran pasifik, telah mampu memberikan suatu kontribusi yang sangat besar bagi kepentingan masyarakat dunia, yaitu kepentingan global untuk menjaga dan mengelola laut dan lingkungannya demi masa depan bumi dan keberlangsungan hidup generasi yang akan datang.

Hal ini merupakan bukti nyata bahwa Sulawesi Utara khususnya memang bagaikan sebuah permata di pasifik.  Melalui WOC dan CTI Summit, Manado dan Sulawesi Utara semakin berubah, semakin maju, semakin berkembang dan semakin dikenal dunia. Momentum ini menjadi starting point yang menjadi awal kebangkitan baru Sulawesi Utara untuk melangkah ke depan dalam mengemban tugas baru dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Sulawesi Utara dan bangsa Indonesia.

Sinyo Harry Sarundajang tetap konsisten pada keyakinannya,

“NIHIL NOVA SUB SOLE”

(Tak Ada yang Abadi di Bawah Matahari)

RIWAYAT HIDUP

PRIBADI

Nama                    : Drs. Sinyo Harry Sarundajang

TTL                        : Kawangkoan, 16 Januari 1945

Alamat                  : Winangun 2 Lingk.2 No.12A

Kec. Malalayang – Manado

Agama                   : Kristen Protestan

Pekerjaan              : Pensiunan PNS

Olahraga               : Tenis, Berkuda

Hobby                    : Membaca, Menulis

MOTTO :

Nihil Nova Sub Sole”

(Tak Ada yang Abadi di Bawah Matahari)

KELUARGA

Istri :

NY. DEETJE L. TAMBUWUN

(menikah tanggal 17 Juli 1969)

Anak-anak :

1. STEVEN J. SARUNDAJANG menikah dgn Jasinta Paat

(Kel.Sarundajang – Paat)

2. VANDA D. SARUNDAJANG menikah dgn Hany Makaminang

(Kel. Makaminang – Sarundajang)

3. FABIAN R. SARUNDAJANG menikah dgn Preysi Siby

(Kel. Sarundajang – Siby)

4. EVA C. SARUNDAJANG menikah dengan Alvarez Moningka

(Kel. Moningka – Sarundajang)

5. SHINTA SARUNDAJANG

PENDIDIKAN

1957    : Sekolah Rakyat Tomohon

1960    : SMP Kristen Kawangkoan

1964    : SMA Negeri Kawangkoan

1968    : Fakultas Sosial dan Politik Jurusan

Administrasi Negara UNSRAT Manado

(Sarjana Muda)

1970    : Fakultas Ketatanegaraan dan

Ketataniagaan UNTAG  Jakarta (Sarjana)

1976    : Institute International Administration

Publique Francaise – Perancis

(Ahli Administrasi Teritorial)

ORGANISASI

1961-1964: Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI)

1964-1970: Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

1986-1999: Dewan Penasehat Golkar Kodya Bitung

1970-2005: Anggota KORPRI

1990-1996: Ketua FORKI Sulut

1990-1996: Ketua PORDASI Sulut

PEKERJAAN

1971 : Dosen Luar Biasa FISIP UNSRAT

1973 : Sekretaris Tim Screening Prop.Dati I Sulut

1974 : Dosen Luar Biasa APDN Manado

1974 : Kasubdir KAMPOL Dati I Sulut

1974 : Panwas Pelaksana Lintas Batas RI dan Filipina

1977     : Kepala Biro Pemerintahan Kantor Gubernur KDH Tkt. I Sulut

1977 : Wkl. Koordinator Tim Pelaksana Operasi Tertib Propinsi

Tkt. I Sulut

1978 : Pj. Sekwilda Tk.II Minahasa

1981 : Sekretaris Tim Screening

1981 : Karo Penyelenggara pada Sekretaris Pemilihan Dati I Sulut

1981 : Sekretaris Panitia DATI I Sulut untuk keanggotaan DPRD I

dalam PEMILU 1982

1981 : Pj. Karo Pemerintahan Daerah Kantor Gubernur Dati I Sulut

1983 : Sekwilda Tingkat II Minahasa

1986 : Walikota Kotif Bitung

1990 : Pj. Walikotamadya Kodya Bitung

1991 : Walikota Kodya Bitung (Definitif)

1996 : Walikota Kodya Bitung (Masa Jabatan Kedua)

1999 : Ketua Harian KAPET Manado-Bitung

2000 : Staf Ahli Mendagri Bidang Strategis

2001 : Inspektur Jenderal Departemen  Dalam Negeri dan Otonomi Daerah

2002 : Pj. Gubernur Maluku Utara

2002 : Pj. Gubernur Maluku

PENGHARGAAN

1987 : Dari Mendagri/Ketua Lembaga Pemilu

1988 : Dari Mendagri sebagai Peserta Tarpadnas

1990 : Dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45

1992 : Dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

1993 : Bintang Legiun Veteran RI

1995 : Manggala Karya Kencana, dari Meneg Kependudukan Kepala Badan Koordinasi

KB Nasional

1995 : Piagam Bakti Koperasi dan Pengusaha Kecil, dari Menteri

Koperasi dan PKK

1995 : Satya Lencana Wirakarya, dari Presiden RI

1995 : Award For Health Education, dari WHO

1996 : Anugrah Aksara, dari Presiden

1995 : Piagam Penghargaan Peresmian Massal  Pembangunan

Perumahan Pemukiman

1996 : Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi dan

Pembinaan Pengusaha Kecil, dari Presiden RI

1997 : Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun, dari Presiden RI

1997 : Piagam Penghargaan atas Pembinaan Karang Taruna dari

Menteri Sosial RI

1999 : Dari Departemen Luar Negeri Republik Philipina atas

Perjanjian Kerjasama BIMP-EAGA

2002 : Outstanding Achievement In Field of Governance, dari 21st

Century Award

2002 : Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun, dari Presiden RI

2003 : Outstanding Government Official in Indonesia, dari Who’s

Who In The World Twentieth Edition

2004 : The Governor’s Award semasa menjabat Gubernur Maluku

dan  Maluku Utara, dari American Biographical Institute

(ABI)

2004 : Tanda Bintang Jasa Utama, dari Presiden RI

2009 : Bintang Maha Putera Utama, dari Presiden RI

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s