DULU, DR SAM RATULANGI. KINI, DR SINYO SARUNDAJANG

Bert Supit: SH Sarundajang, Dr Sam Ratulangi kini

KAPATARAN – Bert Supit, tokoh LSM nasional yang tak kenal kompromi dengan berbagai perbuatan tercela, mengakui, bahwa di Sulut telah hadir titisan darah DR Sam Ratulangi, putera daerah yang berpikir global. Inilah, Drs Sinyo Hary Sarundajang, kandidat Doktor UGM kini menjadi pemimpin tertinggi  Sulut, Gubernur Sulawesi Utara.

“Ini bukan lagi “kecap” politik. So terbukti. Putera daerah yang Minahasa tulen ini sudah mampu menghadirkan dunia di Sulut dan telah membuka cakrawala berpikir kita akan pentingnya satu daerah mendunia seperti yang disampai-sampaikan Ratulangi dulu. Sudah lama saya dalam pencarian, siapa orang yang bisa melanjutkan cita-cita Ratulangi. Sekarang kita so dapa. Inilah orangnya,” teriak Supit sambil menunjuk Gubernur Sarundajang yang duduk di podium kehormatan, disamping mimbar tempatnya berorasi.

[….]Sedang Sarundajang dalam sambutannya, mengatakan, sebenarnya keberhasilannya tak lepas dari peranserta masyarakat yang ikut menunjang program pemerintah. “Kalau tidak ada masyarakat, kami ini tidak ada apa-apanya. Saya tidak lebih, hanya seorang pelayan masyarakat. Keberhasilan pembangunan Sulut adalah keberhasilan masyarakat. Dan, satu lagi ini semua terjadi karena perkenanan Tuhan yang Maha Kuasa. Kuncinya, kerja keras dengan landasan iman yang kokoh,” kata Sarundajang yang disambut tepuk tangan masyarakat Kecamatan Lembean Timur, Minahasa, yang berkumpul menyatu di desa Kapataran, Sabtu lalu.

Dan, tambah Sarundajang, ini sudah merupakan amanah pejuang kita terdahulu, bahwa Sulut harus maju dan bisa bersaing dengan wilayah lainnya di Indonesia. “Torang pe tokoh Minahasa, pejuang Minahasa, pendahulu Minahasa bisa menagih, mengapa prestasi yang mereka capai sebelumnya tidak dilanjutkan. Padahal, SDM kita berkualitas, tanah subur, dan diberkati, masih torang miliki hingga kini,” kata SHS –panggilan akrab Sarundajang.

Menurut Sarundajang, tidak ada pilihan lain, kita harus maju. Dikatakannya, untuk mendapatkan satu bagian kue nasional yang diperebutkan 33 propinsi, 398 kabupaten, dan 93 kota, kita harus menunjukkan kelebihan kita agar dilirik pemerintah pusat. Sukses pagelaran Word Ocean Conference, Coral Triangle Summit dan Sail Bunaken, telah membuka mata pemerintah pusat bahwa Sulawesi Utara ternyata bisa “bicara” dalam forum berskala nasional bahkan internasional.

Hanya saja, tambah Sarundajang, Sulut punya kelemahan. “Kita menganut paham egaliter (egaliterialisme). Paham ini punya dua sisi, tentu positif dan negative. Positifnya, Minahasa, pekerja keras, pinter, dan pemberani. Negatifnya, ada istilah sapa so ngana. Ngana boleh, kita juga boleh. Tak mudah  mengakui keberhasilan orang lain. Ada filsafat dubo-dubo. Nembole lia orang sanang sadiki. Hilangkan itu,” kata Gubernur kemudian disambut tepuk tangan riuh hadirin.

“Nah, tugas saya, tugas torang samua orang Minahasa, mengarahkan sifat egaliter ke arah positif. Makanya, pendidikan penting. Kita so program itu. Memang torang so ndak ada yang bodoh. Buta aksara saja, torang nomor satu nasional, hanya 0,1 persen dari jumlah penduduk Sulut yang belum tahu membaca. Jadi, kalu Tuhan berkenan untuk jabatan kedua, saya dan kita semua masyarakat Sulut, terutama sudara-sudara di Kecamatan Lembean Timur ini, jika masih sayang pa kita, torang wujudkan itu; Semua Harus Sekolah,” ajak Gubernur.

“Jadi marilah sekarang kita harus menjaga nama baik Sulut yang sudah mendunia ini. Jaga lingkungan, lindungi aset-aset bersejarah, ciptakan keamanan yang stabil, jangan mudah terprovokasi isu-isu yang bisa menimbulkan perpecahan, hindri fitnah, dan satu yang paling penting yakni mari kita nyatakan perang terhadap perbuatan korupsi. Korupsi penyakit berbahaya. Harus dihilangkan di bumi kita tercinta,” tegas SHS berharap.

Sementara itu, Max Wilar, Peneliti Senior KPG Yogja dan Anggota Asosiasi Riset Opinki Publik Indonesia (AROPI) mengungkapkan, sekalipun di terror, dengan fitnah, black campaign dan character assassination yang sangat keji dan dilakukan secara terorganisir oleh segelintir provokator yang bermarkas di luar daerah dan konon dibiayai oleh barisan sakit hati (BSH) serta solidaritas para koruptor (SPK), ternyata tidak menurunkan alektabilitas SHS tetap berada di level 56 pct (LSI) hingga 63 pct (KPG) dan berarti akan memenangkan Pilgub Sulut 2010 dengan satu putaran.

Indikator penguatan alektabilitas SHS, kata Wilar, justru didukung oleh simpati yang semakin luas di sektor pedesaan. Survei suara hati tentang kepuasan terhadap kinerja Sarundajang, sebelumnya 82 pct (KPG, Nov.) dan 83 pct (LSI Des.), justru bergerak naik secara konsisten menjadi 84 pct (KPG, Jan.).  Artinya, gerakan segelintir orang yang menyerang SHS dengan penyebaran fitnah melalui selebaran gelap dan tudingan yang membabi-buta, ternyata tidak mengoyahkan kecerdasan masyarakat Sulut yang memiliki indeks pembangunan manusia terbaik setelah DKI Jakarta.***

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s