Dari Upacara Adat Pelepasan Nusa Utara: Menjadi Satu Dalam Keperbagaian

DJOUHARI KANSIL: “KITA SATU PERAHU”

Tarian "ampawayer" salah satu pemanis dalam upacara adat pelepasan tokoh Nusa Utara

Upacara adat pengutusan Nusa Utara (Kabupaten Sangihe, Talaud dan Sitaro), budaya leluhur yang masih tersisah, dalam kaitan memberi restu kepada salah satu putera terbaik Nusa Utara, Drs Djouhari Kansil, MPd.,  yang resmi mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Gubernur 2010-2015 mendampingi Calon Gubernur Sulawesi Utara, Drs Sinyo Harry Sarundajang, Jumat kemarin berlangsung hikmat dan mengharukan. Hikmatnya acara sudah mulai terasa sejak dimulainya rangkaian upacara penyambutan tamu yang dibawakan oleh anak-anak Nusa Utara. Mereka membawakan upacara penyambutan dengan tarian Gunde yang diiringi oleh music Tagonggong. […..]

Ribuan warga Nusa Utara  yang berasal dari seluruh pelosok wilayah Sulawesi Utara yang sudah tumpah-ruah di Bolevard-2, Karang Ria Manado sejak siang hari pun terus memberi sambutan meriah menyambut kedatangan Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang bersama Ibu Deetje Sarundajang-Laoh Tambuwun, sekitar pukul 16.00 Wita.

Sedang upacara penyabutan berlangsug, seluruh tokoh adat juga tokoh masyarakat Nusa Utara menyatu dan sudah bersiap menganugerahkan ketopong adat kaum pria, lambang kemuliaan dan kesatriaan  yang akan dipakaikan pada kedua tokoh Sulut yang akan maju dalam Pemilukada 2010 ini. Ketopong adat, menurut Ketua Panitia Acara Pengutusan Djouhari Kansil, Janen Lesug, berisi doa dan sebagai penangkal kemalangan serta penolak semua yang jahat. Ketopong ini dipakaikan Pentua Adat, Drs. HR Makagansa, MSi., kepada Drs. SH Sarundajang dan Drs Djouhari Kansil dengan diiringi lagu I Ghenggona Langi oleh masaper Bumi Porodisa.

Upacara bertambah hikmat dan syahdu ketika kedua pemandu acara mulai mermbacakan pijian dan harapan yang ditujukan kepada seluruh warga Nusa Utara di wilayah Sulawesi Utara. “Keberadaan dan perubahan sejalan dengan waktu silih berganti menurut kehendak Dia yang Maha Kuasa. Hidip dan penghidupan, keberuntungan, duka nestapa, semuanya dalam pemeliharaan dan pengasihan Allah Maha Penyayang. Kebahagiaan lahir batin dan keselamatan hanyalah di tangan Allah sumber kehidupan. Ketika manusia saling bermusuhan, peperangan terjadi dimana-mana, negeri rusuh tiada hentinya, hanya Allah sumber ketenangan dan ketentraman turun-temurun menyelesaikannya dengan dengan damai,” kata keduanya yang kemudian disambut dengan syukur lewat pujian Makakendung.

Tibalah pada puncak upacara pengutusan secara adat yang dipandu Pentua Adat Aldus Laodini yang langsung memimipin Manahulending (doa pengakuan, penyerahan dan permohonan). Pada tahapan ini, segenap warga memberi penguatan dengan membawakan lagu pujian O Mawu Ruata. Sebelum pujian berakhir, Pentua Adat Joyakim Mahamura sudah bersiap untuk melanjutkan tahapan pengutusan, Aghaghaheng. Dengan mengucap syukur sambil member restu, Pentua Adat Joyakim mengundang tokoh-tokoh masyarakat yang berasal dari Nusa Utara menyerahkan panji lambang tiga kabupaten di Nusa Utara (Talaud, Sangihe dan Sitaro). “Rangkaian acara ini sebagai ungkapan restu dan doa kepada Djouhari Kansil sebagai Calon Wakil Gubernur 2010-2015,” jelas Sekretaris Panitia Upacara Pengutusan Adat Satal, Drs Viser Meloke, MPd.

Djouhari Kansil yang menjadi pusat perhatian pada upacara pengutusan ini, dalam pendangunaung (ungkapan hati) mengatakan, sangat terharu dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh segenap warga Nusa Utara. “Dengan pemberian restu ini, saya berjanji untuk mempertanggungjawabkannya kembali kepada rakyat yang saya cintai. Kita memiliki kebersamaan. Dan, memang kebersamaan adalah yang terpenting. Kalau kita terus bersama, niscaya segala halangan akan dilalui. Kita boleh berbeda warna, suku agama dan golongan. Tapi, kita satu perahu. Mari bersama kita dayung perahu ini agar bisa sampai ke tujuan,” ujar Kansil dengan bersemangat.

Sementara Gubernur Sulawesi Utara, Drs Sinyo Harry Sarundajang, dalam sambutannya mengajak segenap warga untuk bersatu padu mendukung putera terbaik Nusa Utara ini. “Setelah puluhan tahun, apa yang warga Nusa Utara inginkan sudah dalam genggaman. Mari kita eratkan genggaman itu supaya tidak terlepas. Djouhari Kansil adalah jawaban doa dan permohonan saudara-saudara. Ini akan menjadi indah pada waktunya kalau kita eratkan persatuan,” ujar Gubernur yang juga mencalonkan diri untuk periode kedua di Pemilukada 2010 ini.

Selain dihadiri perutusan warga Nusa Utara dri segenap pelosok Bumi Nyiur Melambai ini, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat Nusa Utara juga tampak hadir, diantaranya Prof. DR Raimond R. Tingginehe, MEd., Era Salindeho, Janen Lesug, Polikarpus Karambut, Andries Lutia bersama Ny Andries Lutia-Madelu, Zeth Walo, Tamaka Kakunsi, Nelson Sasaw, Ernes Takaendengan, Marhaen NM,  Max Siso, Abram Sandala,  dan Pdt Alfons Sahabang. (mcs)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s