SETAHUN KEPEMIMPINAN SHS BERHASIL

Peluncuran Buku Biografi DR Djouhari Kansil, M.Pd.

Intan Perrmata, Kini Bagi Sulut Tercinta

DULU Djouhari Kansil betul-betul orang di luar kalangan. Memikirkan saja untuk berkantor di “Gedung Putih”, sama sekali tidak pernah. Bermottokan Kerja, Kerja dan Kerja, telah membuatnya menghabiskan masa pengabdian pada tugas yang dihadapinya setiap hari. Selain itu, keberadaan Djouhari Kansil yang lahir dari etnis, yang selama ini tergolong “tidak berani bermimpi” untuk menduduki satu jabatan tertinggi di daerah, menjadi alasan kuat baginya untuk tidak mau berandai-andai; berambisi. Kalaupun ada jabatan penting di birokrasi (kepala dinas/badan), khususnya di Kantor Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara, itu sudah merupakan penghargaan yang luar biasa baginya.

Djouhari muda menyadari kondisi demikian, sehingga ketika lulus dari IKIP Manado (kini UNIMA), selain memberikan diri dalam pelayanan, Ia pun membidik Pengawai Negeri Sipil. “Yang penting, kita bisa menjadi yang terbaik bagi keluarga juga masyarakat di sekitar kita. Kalaupun kita bisa menjadi seperti sekarang ini (Wakil Gubenur, red), itu hanya oleh Anugerah TUHAN,” kata Kansil beralasan soal kekurang-beraniannya juga warga seetnisnya “bermimpi” tentang sebuah kedudukan atau jabatan yang lebih baik dari apa yang selama ini telah mereka peroleh.

Memang, harus diakui bahwa menduduki jabatan tinggi di lingkungan birokrat di lingkungan Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara, bagi etnis Nusa Utara baru muncul ketika daerah ini dipimpin seorang birokrat segudang prestasi, DR Sinyo Harry Sarundajang. Diera kepemimpinannyalah, sejak tahun 2005 –masa jabatan pertama– telah tercatat dalam lembaran negara beberapa putera terbaik Nusa Utara silih beganti menduduki jabatan eselon II, jabatan cukup terhormat bagi seorang birokrat di daerah setelah jabatan eselon 1 (satu) yang memang hanya diperuntukkan bagi satu PNS di daerah; jabatan Sekretaris Propinsi. Bahkan kini, diakhir periode kepemimpinannya –setelah 50 tahun krisis; pasca ditinggal Arnold Baramuli 1960—SHS lebih lagi. Ia meminang putera Nusa Utara untuk mendampinginya di pentas Pimilukada Sulut 2010 sebagai wakilnya. Dan sekali mendayung, mereka (SHS-DK) menang. Seandainya orang nomor satunya bukan SHS, mungkin “kehormatan” bagi putera terbaik dari Nusa Utara ini belum akan terjadi. Menarik untuk dicatat bahwa setelah Arnold Baramuli yang menjadi Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah pada periode tahun 1960-1962, tidak ada lagi putera Nusa Utara yang sampai pada posisi seperti itu atau minimal sebagai wakil orang nomor satu di daerah yang sama kita cintai.

Saat ini, 50 tahun kemudian (1960-2010), lagi-lagi seorang putera terbaik Nusa Utara meraih kehormatan itu. Ini menjadi perjalanan panjang yang harusnya dicacat dengan tinta emas di Negeri Pantai, Negreri Kepulauan Nusa Utara. Menjadi pelajaran, bahwa sejarah masalah lalu tampaknya tidak harus menjadi beban yang menghambat kita untuk bisa meraih apa yang diinginkan. Tuhan telah menciptakan semua manusia  sama di hadapannya. Manusia adalah mahluk termulia diantara semua ciptaanNYA di bawah kolong langit ini.

***

MASA kecil Djouhari, boleh dibilang tidak seindah seperti yang kita rasakan kini. Lahir di dusun kecil di daerah kepulauan, di Sangihe Talaud, membuatnya menghabiskan masa kecil seperti kebanyakan anak di daerah kepulauan, yang serba kekurangan. Hingga menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru di Siau –kini Kabupaten Sitaro– hidup serba kekurangan sangat melekat dalam perjalanan hidupnya. Bahkan, hidup dalam serba kekurangan ini pun berlanjut ketika Ia melanjutkan pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Manado. “Semangat dan keyakinan bahwa Tuhan berkenan bagi setiap orang yang mengandalkanNYA, telah mengalahkan semua kesusahan itu hingga saya bisa seperti sekarang ini,” sebut Kansil saat peluncuran Biografinya; Sang Intan Permata (Persembahan Buat Mama) usai peringatan satu tahun kepemimpinan Sinyo H. Sarundajang dan Djouhari Kansil sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara, di Gubernuran Bumi Beringin Manado.

Kenangan yang begitu indah yang menjadi rerkam jejak putera Nusa Utara ini, telah menjadi jejak menarik untuk disimak guna dijadikan sebagai pelajaran. Kisah-kisah pribadi seorang Djouhari  inipun yang telah memikat penulis untuk merekamnya dalam sebuah buku untuk dipublikasikan. Awalnya, penulis hanya berencana untuk menulis karya berseri (tulisan bersambung) di media. Namun, setelah berkonsultasi dengan yang bersangkutan disepakatilah untuk dibuatkan sebuah buku Biografi dengan judul: Sang Intan Permata (Persembahan Buat Mama).

Singkatnya, buku Biografi Djouhari Kansil ini memuat berbagai cerita menarik yang dilakoninya, dalam upayanya mewujudkan cita-cita dan tanggungjawabnya kepada daerah dan tanah tercintanya. Bahwa selama ini, daerahnya (Nusa Utara) hanya menjadi titik balik politik yang lebih dimanfaatkan sebagai objek kepentingan dari para pencandu politik. Kini Nusa Utara boleh berbangga dengan hadirnya Djouhari Kansil, yang oleh warga Sulawesi Utara dipercaya menjadi salah satu penentu kebijakan pembangunan di daerah berjuluk Nyiur Melambai ini.

Agar lebih memudahkan pembaca memahami sisi positif Biografi Djouhari Kansil, penulis sengaja menulis dengan gaya penulisan popular dalam bahasa yang muda dimengerti. Berikut conclusion isi Biografi Djouhari Kansil: Sang Intan Permata (Persembahan Buat Mama) mulai dari Bab I hingga Bab IX. Buku ini dilengkapi dengan beberapa informasi tentang Djouhari plus pemuatan foto-foto berkesan selang perjalanannya menuju Gubernuran Bumi Beringin Manado.

BAB I, mengurai bagaimana perjalanan hidup seorang Djouhari yang menjalani hidup di dusun kecil yang serba kekurangan. Bahkan untuk mengenyam pendidikan dilakukannya dengan penuh perjuangan. Orang tua yang hanyalah pensiunan PNS di kantor kecamatan kemudian ditujuk sebagai Kepala Desa, membuat Djouhari harus bekerja keras untuk bisa ikut membantu perekonomian keluarga. Pasalnya, sejak ditinggal ayahanda tercinta, Djouihari yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6, belum cukup baginya untuk bisa mandiri. Namun, berkat perjuangan yang gigih, dari berbagai kekurangan Djouhari bisa membalikkannya dan menjadikannya survive. Djouhari bisa meraih gelar sarjana pendidikan di IKIP Manado, sebagaimana keinginan orang tua/keluarga juga masyarakat Nusa Utara umumnya.

BAB II, kedekatan Djouhari dengan Tuhan dibuktikannya dalam kehidupan melayani yang dijalaninya sejak usia muda. Kehidupan pelayanan yang tulus diurai Djouhari dengan menjalankan tugas-tugas pelayanan mulai dari guru sekolah minggu, pembina remaja, coordinator pemuda, sampai dipercayakan menjadi pelayan di jemaat juga wilayah gereja yang lebih besar. Untuk tugas-tugas ini, Djouhari mengaku tidak pernah lelah karena pekerjaan ini adalah wujud terima kasih kita terhadap Tuhan yang setiap saat menjaga dan menganugerahi kita hidup tanpa pamrih.

BAB III, tak ubahnya dengan kebanyakan anak muda, Djouhari juga mengalami bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, di balik semua ini Ia meyakini bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita tidak ada yang terjadi karena kebetulan. “Sejujurnya boleh dibilang kebetulan. Namun dengan seringnya kami dipertemukan dan bahkan dijadikan satu dalam nikah yang kudus, sayapun menemukan jawaban bahwa Tuhan-lah yang mempertemukan kami. Pertemuan kami bukan karena kebetulan. Meski secara manusia kita tidak pernah mengaturnya.”

BAB IV, pada masa ini boleh dibilan menjadi titik awal perjalanan hidup seorang Djouhari. Mungkin perjalan hidupnya akan menjadi lain apabila Ia mengikuti kemauannya untuk menjadi PNS sebelum menyelesaikan strata satunya. Tapi, dengan Ia menuruti keinginan ibundanya tercinta untuk menyelesaikan dulu S-1 baru kemudian mencari pekerjaan, maka semuanya menjadi seperti sekarang ini. Dengan prestasi yang besar ketika mengajar di SPG Do Bosco (tidak menunggu lama untuk bisa diberi tanggung jawab sebagai Wakil Kepala Sekolah), telah menjadi modal awal baginya untuk ditarik menjadi pembantu pimpinan di Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Dinas Pendidikan Nasional).

BAB V, merupakan keberuntungan bagi Djouhari. Pasalnya, karirnya di kantor yang mengurusi masalah pendidikian di Sulawesi Utara ini terus saja melejit. Meski sering dianggap terlalu muda, namun dengan dedikasi yang tinggi, disiplin, dan kemauan serta kerja keras, membuat pilihan pimpinan selalu jatuh kepadanya. Awalnya, tidak sedikit tantangan yang harus dilalui sebelum akhirnya teman-teman di kantor (Kanwil Depdikbud) bisa menerima Djouhari sebagai staf di situ. Ketika itu, jangankan tempat kerja representatif; fasilitas seperti yang biasanya diberikan pada staf saat bekerja, kursi saja tidak disiapkan dan memang tidak diberikan. Namun, prestasi telah menjawab itu semua sehingga Djouhari bisa membuktikan bahwa kepantasan dan kepatutan ada padanya. Djouhari mengakhiri perjalanan karir di Dinas Diknas, sebelum akhirnya dikembalikan untuk memegang jabatan nomor satu di kantor tersebut setelah tour of duty ke Badan Diklat Propinsi adalah Wakil Kepala Dinas.

BAB VI, pada masa ini, meski sebelumnya Ia di”tertawakan” karena dipromosikan pada jabatan yang “kering”, Djouhari mampu bangkit dan membalikkan keterpurukan menjadi suatu kemenangan. so ta taru di tampah kering dia skarang”…. (di posisi jabatan yang tidak punya apa-apa… red). “Ini tantangan pertama yang harus ia buktikan bahwa sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tidak mengenal istilah tempat kering dan tempat basah. Kemudian apa yang dilakukan Djouhari untuk memupus istilah “kering dan basah” itu. “Saya melakukan berbagai terobosan. Hasilnya, sejumlah departemen/kementrian (berbagai dinas dan badan) akhirnya mau melakukan diklat dan pelatihan di kantor Badan Diklat Propinsi Sulawesi Utara. Dengan begitu, tempat yang dulu dipandang sebelah mata, serta-merta masuk kategori kantor yang diperhitungkan.

BAB VII, pada bagian ini menjadi menarik untuk disimak. Pasalnya, perjalan karir menuju puncak diukir ditempat ini. Mungkin bila Djouhari tidak maksimal dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Nasional, lirikan SHS bisa jatuh ke tangan orang lain. “Perjalanan karir saya yang kemudian dipercayakan menjadi Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara  adalah buah dari perjalanan panjang menggeluti hidup. Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang penuh dengan kesederhanaan. Kedua orang tua saya memberikan contoh betapa hidup yang terbaik adalah hidup yang selalu memberi manfaat kehidupan bagi sesama. Siapapun mereka. Tak kenal suku atau agama apapun. Hidup berarti mengabdi untuk kehidupan bersama.”

BAB VIII, sesuatu yang pahit tentu tidak lantas cepat-cepat dimuntahkan. Begitupun yang manis, tidaklah baik untuk cepat-cepat ditelan. Bagi Djouhari, member teladan yang baik sebagai seorang suami, ayah juga kepala keluarga adalah modal utama dalam kita meraih apa yang kita inginkan, termasuk dalam karir. Simak pengakuan istri tercinta, Mike Tatengkeng tentang bagaimana Djouhari mendayung bahtera rumah tangganya. “Seperti Bapak yang tidak pernah berubah sejak sebagai seorang Guru hinga Kepala Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Sulawesi Utara, bahkan kini Wakil Gubernur, Ia selalu sederhana dan tampil apa adanya. Begitupun semua isi rumah ini. Bapak selalu mengajarkan seperti itu. Apalagi selama kurang lebih 25 tahun Bapak menjalani tugas di jemaat sebagai pelayan Tuhan. Pokoknya, Bapak selalu mengingatkan kita agar mampu menciptakan kehidupan keluarga yang takut akan Tuhan dan selalu dipenuhi dengan cinta kasih dalam rumahrangga. Satu hal yang harus kita hindari, jangan selalu memaksakan kehendak untuk hal-hal yang tidak perlu.

BAB IX, gugusan tulisan ini lebih banyak sebagai rekam jejak perjalanan Djouhari menyusuri jalan berliku menuju Guberbnuran Bumi Beringin. Tulisan rekam jejak ini, sebenarnya merupakan saduran dari berita-berita yang telah diekspose sejumlah media cetak nasional, terbitan Sulawesi Utara. Perjalanannya dimulai dari saat dipinangnya Djouhari Kansil oleh Calon Gubernur Sulawesi Utara, DR Sinyo Harry Saerundajang (ketika itu) sampai pada pelepasan secara adat Nusa Utara hingga hari-hari bersejarah selama perjalanan tim dari pulau ke pulau.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s